Tiga Hari Menyatu dengan Alam, Sejuta Cerita Terukir di Jaka Garong

Oleh Nayfa
Pada tanggal 18–20 April 2026, Kegiatan perkemahan dilaksanakan di Perkemahan Jaka Garong, Wonokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh kelas 2 MTs sebagai pandu tingkat Pengenal dan kelas 5 MA sebagai pandu tingkat Penghela. Tiga hari yang menantang, dua malam yang penuh cerita dan sejuta pengalaman seru, dengan momen sederhana sebagai kenangan utamanya
Hari pertama diawali dengan upacara pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bangun desa. Tenda-tenda mulai didirikan oleh para peserta, dilanjutkan dengan memasak untuk makan siang. Setelah itu, kegiatan berjalan sesuai pembagian masing-masing. Kelas 4 mengikuti lomba dan outbound yang seru, sementara kelas 5 mendapatkan materi-materi kepanduan.
Memasuki sore hari, peserta diberi waktu untuk bersih diri dan kembali memasak untuk makan malam. Suasana hangat dan penuh kebersamaan begitu terasa saat sholat berjamaah dilangsungkan di pendopo. Malam harinya menjadi salah satu pengalaman yang cukup berbeda, yaitu kegiatan Caraka Malam. Peserta melakukan jelajah alam di malam hari, mencoba menyatu dengan suasana sekitar, mendengar suara jangkrik, aliran air, dan berbagai suara alam lainnya di tengah sunyinya malam. Kegiatan ini juga diselingi dengan pos-pos kepanduan yang menambah tantangan tersendiri. Setelah itu, peserta kembali ke tenda untuk beristirahat, lalu bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajud dan dilanjutkan dengan subuh.
Hari kedua dimulai dengan senam pagi, kemudian memasak untuk sarapan. Kegiatan utama hari itu adalah jelajah alam yang terasa lebih menantang dan seru, juga diselingi dengan berbagai pos kepanduan. Setelahnya, diadakan lomba-lomba untuk kelas 4 dan 5, sementara kelas 5 juga melanjutkan kegiatan outbound. Seperti hari sebelumnya, sore hari diisi dengan bersih diri dan memasak.
Malam kedua menjadi puncak keseruan. Api unggun dinyalakan, diikuti dengan pentas seni yang benar-benar menghidupkan suasana. Kemah ini semakin berkesan karena momen tawa dan kebersamaan di malam puncak.
Hari terakhir diawali dengan materi tentang reptil yang tidak kalah menarik. Pemateri bahkan membawa beberapa ular, yang membuat suasana semakin seru sekaligus menegangkan. Setelah itu, peserta membongkar tenda, melaksanakan upacara penutupan, dan bersiap kembali ke asrama masing-masing.
Kemah kali ini terasa berbeda karena benar-benar melatih untuk survive dan lebih dekat dengan alam. Hal-hal tak terduga juga ikut mewarnai, seperti keberadaan monyet-monyet yang tiba-tiba mengambil makanan dan bekal yang kami bawa, bahkan sampai membawa piring. Banyak hikmah yang bisa dipetik, tidak hanya perihal kepanduan, tetapi juga mengenai kekompakan, swadaya diri, serta kecakapan beradaptasi dengan lingkungan. Tiga hari yang terasa panjang, tapi ternyata berlalu begitu cepat, meninggalkan cerita yang tidak akan mudah dilupakan.

Kabar Lainnya