Mubaligh Hijrah Internasional 1446 H : Menapaki Bulan Mulia di Negeri Sakura

oleh Bilqiis Shafaa

Mubaligh Hijrah Internasional (MHI), merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Ramadan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya madrasah dalam memfasilitasi santrinya untuk mengembangkan skill berdakwah hingga kancah internasional. Selain itu, program ini juga menjadi wujud nyata bentuk pengabdian santri kepada masyarakat melalu dakwah sosial kemasyarakatan. Negara yang dituju meliputi Malaysia, Thailand, Taiwan, Hongkong, dan Jepang.

Tahun ini, aku mendapatkan amanah untuk menjadi salah satu peserta Mubaligh Hijrah Internasional Jepang. Mendapatkan kesempatan untuk berdakwah di Negeri Sakura menjadi sebuah anugerah yang tak pernah lelah aku syukuri. Berbeda dengan negara lain, tahun ini merupakan tahun pertama MHI dilaksanakan di Hongkong dan Jepang. Hal tersebut membuat adanya keterbatasan informasi yang aku dapatkan mengenai gambaran latar dan objek dakwahnya.

From Merapi to Fuji

3 Maret 2025, menjadi hari di mana aku mengawali perjalanan penuh makna. Aku diberangkatkan bersama partner ku, Sri Amira dan 4 santri dari Muallimin. Selain itu, kami juga didampingi oleh Ustaz Zulkifli selaku Wakil Direktur III Muallimin selama kurang lebih 14 hari.  Kami berangkat dengan rute perjalanan Yogyakarta (Madrasah Muallimin)-Jakarta (Soekarno Hatta International Airport)-Tiongkok (Fuzhou Cangie International Airport)-Jepang (Narita International Airport). Perjalanan ini kami tempuh selama 3 hari 2 malam dengan banyak cerita menarik, mulai dari badai di langit Tiongkok, delay berkali-kali, hingga cerita hotel kapsul yang membuat kami tertawa tak henti.

Sesampainya di Jepang, kami disambut hangat oleh pihak Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiah (PCIA) Jepang selaku kolaborator utama dalam program ini. Selanjutnya kami ditempatkan di beberapa wilayah yang berbeda. Penempatan Mubaligh Hijrah Jepang dibagi menjadi 4 titik, yakni Hiroshima (1), Osaka (1), Fukouka (1) dan Tokyo tepatnya di Adachiku ditempati oleh kami selaku santriwati Mu’allimaat  dan satu santri Mu’allimin.

Safari Dakwah Ibu Kota Negeri Sakura

Menjadi kader dalam naungan Muhammadiyah bertajuk Mubaligh Hijrah kami emban dengan penuh amanah. Dalam menjalankan tugas ini, kami ditempatkan di rumah Bapak Yazid dan Ibu Gina Farida, Warga Negara Indonesia (WNI) Muslim yang sudah mendapat permanen residen disana. Kami mengabdi pada Ainul Yaqeen Foundation – sebuah komunitas yang didirikan oleh tuan rumah kami sendiri. Komunitas ini sudah berdiri sejah tahun 2022 – menjadi wujud nyata perjuangan Ibu Gina dalam membumikan nilai-nilai islam bagi masyarakat Kita-Ayashe dan sekitarnya.

Kegiatan selama Ramadan di sana sangat bervariasi. Mulai dari kegiatan harian meliputi tadarus Al quran, tarawih berjamaah, kajian malam hingga kegiatan mingguan seperti manasik haji setiap hari Sabtu dan grand ifthar setiap hari Ahad. Sebagian besar kegiatan disana dipusatkan dirumah Bu Gina. Kegiatan tadarus Al quran dilakukan setiap hari secara daring dan luring. Tadarus daring dilakukan pada dini hari, tepatnya ba’da shubuh dengan program one day one juz. Sedangkantadarus secara luring dilakukan di malam hari setelah salat tarawih, biasanya ditujukan bagi ibu-ibu yang ingin belajar  Al quran lebih mendalam. Selanjutnya pada kegiatan grand ifthar, kami bertugas untuk menjadi petugas acara dan menyiapkan santapan berbuka berupa makanan berat dan makanan ringan. Menu makanan berat dibedakan antara dewasa dan anak-anak. Untuk anak-anak biasanya berupa makanan tidak pedas seperti spageti, sedangkan bagi orang dewasa berupa bento – sebuah makanan bekal khas jepang, namun menunya diganti menjadi makanan khas Indonesia. Sistem pembuatan bento memiliki keunikan tersendiri, salah satunya adalah keharusan untuk menimbang nasi bagi tiap porsi. Teruntuk perempuan 150 g dan laki laki 180 g. Namun siapa sangka, porsi tersebut sangat tepat untuk ukuran berbuka.

Selain itu, terdapat kegiatan pesantren kilat oleh TPA Hikari yang berlangsung selama 3 hari yakni pada tanggal 24-26 Maret 2025. Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang beragam, mulai dari anak keturunan Indonesia, Jepang hingga negara lain. Pesantren kilat berlangsung dari pukul 10.00 – 14.00 JST. Kegiatan dimulai dengan sesi cerita nabi dan rasul oleh Ustaz Hifni dan Ustaz Firman, kemudian dilanjutkan dengan sesi hafalan hadits, doa-doa, dan surat pendek oleh kami selaku santriwan santriwati, lalu ditutup dengan sesi membuat handcraft bersama-sama. Anak-anak terlihat sangat antusias dalam mengikuti pesantren kilat. Hal ini dikarenakan selama Ramadan tidak diadakan kegiatan TPA rutin seperti halnya di Indonesia.

Tidak hanya berdakwah, kami juga membantu kegiatan kerumahtanggaan, mulai dari menyiapkan santapan berbuka, hidangan hari raya, bersih-bersih rumah, hingga mengeringkan pakaian yang menjadi rutinitas favorit kami tiap malam.

Pada Hari Raya Idul Fitri, kami melaksanakan salat ied berjamaah di Hozuka Center – sebuah gedung kelurahan yang menjadi satu fasilitas gratis dari pemerintah untuk masyarakat. Kegiatan dilanjutkan dengan halalbihalal yang dilaksanakan di Mizumoto Koen – sebuah taman indah di Tokyo. Menyambut hari raya di Negeri Sakura menjadi hal baru bagi kami. Suara takbiran tidak bergelora keras seperti halnya di Indonesia. Namun, kebersamaan, kehangatan dan nuansa yang tercipta berhasil membuat kami terpana.

Selain mengabdi pada Ainul Yaqeen, kami juga berkunjung ke beberapa komunitas muslim Indonesia dan melakukan safari masjid di sekitar Kota Tokyo. Ada Masjid SRIT – masjid milik pemerintah Indonesia, Masjid As Salam – masjid milik orang India, Pakistan dan Bangladesh hingga Masjid Camii – masjid milik orang Turki yang menjadi masjid terbesar di Jepang. Komunitas muslim Indonesia di Jepang juga tidak kalah keren, ada Ruumuichi (Rumah Muslim Indonesia Chiba) – komunitas milik Dompet Dhuafa, Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) – sekolah milik pemerintah Indonesia  dan tentunya Ainul Yaqeen Foundation – komunitas yang didirikan oleh Ibu Gina Farida. Komunitas ini tidak hanya beranggotakan orang Indonesia, ada yang berasal dari UK, Filipina, Mesir hingga masyarakat lokal Jepang.

Di antara rutinitas dalam melaksanakan tugas, tak lupa kami berkeliling Kota Tokyo untuk menikmati keindahannya. Selama disana, kami menggunakan berbagai alat transportasi, mulai dari mobil milik tuan rumah, sepeda untuk berkeliling di sekitar Ayashe, hingga densha – sebuah kereta umum di Jepang yang kami gunakan untuk berkeliling Kota Tokyo setiap hari. Kami berkunjung ke Odaiba dengan keindahan yang luar biasa, Shibuya dengan persimpangan tersibuknya, Asakusa dengan hiruk-pikuk turis mancanegara, Umihotaru dengan kecanggihan tekonologinya, Harajuku dengan street food menariknya, Akihabara dengan kota anime-nya, Shinjuku dengan hiburannya, Hibiya dengan alat elektroniknya hingga Kawaguchi, Korotamago dan Sato Nenba dengan suguhan Fujisan berbalut salju.

Ukhuwah Islamiah Bersimfoni

Melakukan perjalanan ke Jepang bertajuk Mubaligh Hijrah meninggalkan kesan mendalam bagi kami. Ukhuwah Islamiah yang tercipta sangat harmonis penuh simpati. Ibu Gina dan pak Yazid yang super baik, Bu Yayah dan Pak Kris yang selalu membersamai, Bu Alin dan Miho yang sering mengajak kami keliling Tokyo, Mbak Oliv dan Pak Miftah yang menjadi pintu utama kami, Bu Dewi yang sangat peduli, Aisya-san dengan bahasa yang tak selalu kami pahami, Pak Sani dengan lelucon unik yang selalu menghiasi, Bu Ita dengan masakan khas padangnya, Bu Dewi, Bu Teti dan Bu Le sebagai sensei TPA Hikari, Ustaz Firman Manshir dan Ustaz Hifni yang menjadi partner dakwah kami, Ustaz Firman Wahyudi yang selalu berbagi pengalaman menarik berkeliling negeri hingga Asqa, Ayana, Rizki, dan Kairi yang memberikan banyak pendewasaan diri.

Tantangan

Hal yang kami hadapi selama di sana tentu tidak semuanya sesuai ekspetasi. Salah satunya adalah culture shock. Meskipun sebagian besar objek dakwahnya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) namun budaya mereka sudah tercampuri dengan kebiasaan masyarakat Jepang. Salah satunya yakni ketepatan waktu yang sangat terorganisasi dalam melaksanakan berbagai kegiatan, termasuk dalam memulai kajian bahkan jalan-jalan. Selain itu, menjadi bagian dari umat muslim di negara minoritas tentu tidaklah mudah, kami mengalami berbagai struggle seperti kendala bahasa, kesulitan untuk mencari makanan halal hingga kesulitan mencari tempat salat. Terlebih kami datang pada musim dingin menuju peralihan musim semi, tentu harus mudah beradaptasi dengan perubahan iklim yang ekstrem.

Akhir Masa

2 April 2025, satu perjalanan telah dicukupkan oleh masa. Jepang, negara yang tak pernah terlintas di benak, menjadi satu catatan perjalanan hidup yang paling berharga. Kata terima kasih tak henti kuhaturkan kepada seluruh pihak yang telah memberikan amanah luar biasa – sebuah kesempatan yang tak akan datang dua kali. Terimakasih Bu Gina atas home sweet home nya.  Terima kasih Tokyo atas kehangatan dan semua kisah yang tak pernah aku lupa. Satu harapan, adalah untuk bisa kembali menapakinya.

Kabar Lainnya